Home CAKRAWALA Rohaniawan Singgung Kata ‘Kafir’ dan ‘Mayoritas’ Dibalik Kotak Suara Pemilu

Rohaniawan Singgung Kata ‘Kafir’ dan ‘Mayoritas’ Dibalik Kotak Suara Pemilu

Komentar Dinonaktifkan pada Rohaniawan Singgung Kata ‘Kafir’ dan ‘Mayoritas’ Dibalik Kotak Suara Pemilu
0
26

JAKARTA, “Atau jangan-jangan (kata) ‘minoritas’ itu datang dari kotak suara, dari proses demokrasi, karena yang ingin menang cepat mengatakan ‘kamu minoritas, kamu harus tahu diri kamu lebih sedikit. Ini perlu didalami’,” imbuh Rohaniawan Kristen Pdt Dr Martin Lukito Sinaga.

CELEBES NEWSBerita Terbaru, Rohaniawan Kristen Pdt. Dr Martin Lukito Sinaga, mengatakan, membahas kata ‘minoritas‘ dan ‘kafir‘ yang acap kali diucapkan oleh kelompok mayoritas. Karena itu dia mempertanyakan, pemakaian dua kata tersebut terkait perebutan kekuasaan semata. Martin menyampaikan penggunaan kata ‘minoritas’ dan ‘kafir’ perlu dibahas lebih dalam.

“Ketika kita memasuki tahun politik dan menentukan kebangsaan kita hari depan. Tentang minoritas, bagaimana pengalaman orang Protestan atas ini sebenarnya agak ambigu. Ada dua hal apakah itu datang dari saudara muslim yang mengatakan kami ini kafir? Tapi kalau saya baca Quran yang mulia, orang Kristen itu sama-sama pemilik kitab,” ucap Martin.

“Atau jangan-jangan (kata) ‘minoritas’ itu datang dari kotak suara, dari proses demokrasi, karena yang ingin menang cepat mengatakan ‘kamu minoritas, kamu harus tahu diri kamu lebih sedikit. Ini perlu didalami’,” imbuh Martin.

Hal senada, tokoh Buddha Bikkhu Dammasubho Mahatera membahas perihal minoritas dan anggapan mengenai agama Buddha yang seakan masih asing di Indonesia.

“Dulu belum banyak dikenal. Kalau ketemu orang-orang semacam kami di tempat umum, rata-rata mengira ini shaolin. Tidak terbayang kalau itu ulama agama. Sering kita di tengah masyarakat terjadi friksi, sengketa bahkan berujung salah paham padahal sebenarnya itu bukan salah paham tapi pahamnya yang salah,” jelas Bikkhu Dammasubho.

“Saya kalau di wihara memiliki otoritas tertinggi tapi kalau keluar wihara adalah warga negara Indonesia, sama dengan Bapak/Ibu lainnya,” tambah Bikkhu Dammasubho.

Bikkhu Dammasubho mengungkapkan sebagian masyarakat Indonesia beranggapan Buddha sebagai agama baru dengan segala prasangka.

Dia menerangkan, Kondisi agama Buddha di Indonesia oleh sebagian paham masyarakat berpendapat bahwa agama Buddha minoritas dan baru, belum lama nampak di muka bumi, itupun disertai tafsir-tafsirnya.

“Di antaranya menafsirkan bahwa tata peribadatan kaum Buddha hanya setingkat tradisi saji, bersedekah mengharap berkah, sarat bergelantungan aksesoris simbol, penyembah berhala, pemuja api. Itu tafsir-tafsir yang diprakirakan,” ujarnya. [Celebesnews.id]

Penulis: Ralian

Comments are closed.

Check Also

Berencana Pindahkan Kedubes ke Yerusalem, Bamsoet Kecam Keras Australia

JAKARTA – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengecam keras pemerintah Australia yang  be…