Home CAKRAWALA CSOs Gelar The People’s Summit on Alternative Development

CSOs Gelar The People’s Summit on Alternative Development

Komentar Dinonaktifkan pada CSOs Gelar The People’s Summit on Alternative Development
0
52

JAKARTA – Beberapa Civil Society Organizations (CSOs) Indonesia dan global, secara independen berinisiatif menggelar The People’s Summit on Alternative Development yang akan diselenggarakan tanggal 8-10 Oktober 2018 di Sanur, Bali.

CELEBES NEWSBerita Terbaru, ‪Pertemuan yang berdekatan dengan IMF-World Bank Annual Meeting tersebut bertujuan menuntut akuntabilitas Lembaga Keuangan Internasional khususnya Bank Dunia dan IMF.

“Jadi gagasan besar People’s Summit ini adalah menuntut akuntabilitas Bank Dunia dan IMF. Mengingat kedua lembaga tersebut memiliki sejarah panjang dalam proses pembangunan di Indonesia,” kata Hamong Santono, dari INFID yang sekaligus koordinator acara People’s Summit tersebut, dalam pernyataan persnya yang diterima Senin (8/10/2018)pagi.

Menurut Hamong, hutang yang diberikan oleh Bank Dunia seringkali berdampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan, namun tidak ada penyelesaian yang bermakna untuk kepentingan masyarakat dan lingkungannya.

Secara khusus Hamong juga menyampaikan pendapatnya tentang kepentingan Indonesia yang perlu diperjuangkan agar penyelenggaraan IMF-World Bank Annual Meeting benar-benar member manfaat bagi Indonesia. Menurut dia, pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan pertemuan IMF-WB untuk mendorong isu-isu besar yang tidak mampu diselesaikan oleh Indonesia sendiri, semisal illicit financial flow dan asset recovery.

Sementara itu, Diana Gultom dari debtWATCH Indonesia menyatakan bahwa, selama hampir 50 tahun WB-IMF beroperasi di Indonesia, belum pernah terjadi proses yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

“Lihat saja kasus pembangunan dam di Kedungombo, kebijakan WATSAL, maupun rekomendasi-rekomendasi IMF ke pemerintah Indonesia lewat rangkaian LoI (Letter of Intent) masih memiliki dampak negatif sampai sekarang,” kata dia.

Sedangan Suriadi Darmokodari WALHI Bali merasa aneh, mengingat di Bali sendiri isu tentang pentingnya Pertemuan WB-IMF tidak terasa, bahkan yang nyata malah pendekatan represif terjadi dengan diturunkannya tanpa penjelasan baliho-baliho Bali Tolak Reklamasi (BTR) yang menolak reklamasi Teluk Benoa.

Sementara, Ah Maftuchan, Direktur Perkumpulan Prakarsa menyayangkan pemerintah Indonesia sebagai tuan rumah, berlaku eksklusif.

“Seharusnya agenda dan prosesnya terbuka untuk publik. Maka The People’s Summit akan memberikan ruang bagi CSOs untuk berdiskusi, memberikan kritik, dan saran secara lebih proporsional serta berbasis bukti. Karena dalam penyelenggaraannya mencoba merangkul sebanyak mungkin suara yang merefleksikan pandangan tentang Bank Dunia/IMF serta dampak aktivitasnya,” pungkas dia. [Celebesnews.id]

Penulis : Hartono

Comments are closed.

Check Also

Golkar: Dibutuhkan Rakyat Pemimpin yang Merakyat, Bukan Sosok ‘The Winter Soldier’

JAKARTA, “Cari ilustrasi yang pas dong. Jangan ikut-ikutan. Apalagi kalau dicocok-co…