Home CAKRAWALA BNPB Lihat Langsung Kawah Gunung Agung, Ini Caranya

BNPB Lihat Langsung Kawah Gunung Agung, Ini Caranya

0
0
2,437

Bali, Masih tingginya aktivitas vulkanik Gunung Agung membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)  masih menetapkan status Awas (Level 4) hingga saat ini. Dorongan magma ke permukaan masih berlangsung sehingga muncul rekahan di kawah Gunung Agung.

CELEBES NEWS – Dari rekahan keluar asap putih bertekanan rendah dengan tinggi 50-200 meter. Asap tersebut adalah proses uap air yang terpanaskan. BNPB merilis, secara visual belum terlihat tanda-tanda letusan Gunung Agung. Radius berbahaya yang harus dikosongkan sesuai rekomendasi PVMBG adalah radius 9 kilometer dari puncak kawah dan 12 kilometer di sektor utara – timur laut dan sektor tenggara – selatan – barat daya.

Kepala BNPB, Willem Rampangilei menginisiasi penggunaan drone untuk memantau kawah Gunung Agung. “Kita harus kerahkan drone yang memiliki spesifikasi khusus terbang tinggi yang mampu mendokumentasikan semua fenomena di kawah. Tanpa drone kita tidak tahu apa yang terjadi. Citra satelit tidak dapat setiap saat memantau perkembangan kawah. Oleh karena itu, drone menjadi pilihan yang terbaik. Aman, efektif dan update,” kata Willem, Rabu (11/10).

Penggunaan drone dilakukan karena keterbatasan peralatan yang bisa mencaoai hingga puncak kawah, sehingga tidak dapat diketahui kondisi visual secara terus menerus. Puncak kawah berbahaya dan tidak boleh ada aktivitas masyarakat. Oleh karena untuk melakukan pemantauan puncak kawah dan lingkungan sekitar Gunung Agung, BNPB bersama PVMBG menerbangkan drone atau pesawat tanpa awak.

BNPB mengerahkan 5 unit drone dengan spesifikasi berbeda. 3 unit drone fixed wing yaitu Koax 3:0, Tawon 1.8 dan Mavic, sedangkan 2 unit drone jenis rotary wing adalah multi rotor M600 dan Dji Phantom.

Mengingat ketinggian Gunung Agung mencapai 10.400 kaki maka diperlukan drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi. Tidak banyak drone yang memiliki kemampuan terbang tinggi. Rata-rata drone didesain terbang pada ketinggian 7.000 kaki sehingga saat diperlukan untuk terbang tinggi tidak banyak yang tersedia. Drone Koax 3:0 dan Tawon 1.8 memiliki kemampuan terbang hingga 13.000 kaki. Mesin menggunakan baham bakar ethanol agar dapat terbang tinggi.

Celebesnews.id – Tim drone yang didatangkan dan difasilitasi oleh BNPB untuk pemotretan langsung secara dekat guna membantu PVMBG melihat secara dekat kondisi kawah Gunung Agung saat ini. | Foto: BNPB

Drone rotary wing digunakan mampu terbang ketinggian 500 meter untuk memetakan permukiman dan alur-alur sungai. Untuk mendukung semua itu digunakan Ground Control Station yang mobile.

“Persiapan terbang telah dilakukan pada Rabu (11/10/2017). Flight plan dan ujicoba terbang telah dilakukan hari ini dari landas pacu di Kubu. Siang tadi flight plan terbang berputar Gunung Agung sampai ketinggian 11.500 kaki telah dilakukan menggunakan drone jenis Tawon 1.8,” jelas Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho melalui rilis yang dikirim ke CelebesNews.

Namun sangat disayangkan, saat drone terbang diketinggian 6.000 kaki, kamera mengalami masalah maka drone kembali ke landasan.

“Pesawat normal dan mampu terbang tetapi adanya risiko blind flight di gunung maka penerbangan tidak dilanjutkan. Rencana misi penerbangan akan dilakukan besok Kamis pagi (12/10/2017) dari Kubu,” jelas Sutopo lagi.

Satu hal yang membanggakan, Drone yang digunakan untuk mengamati kawah gunung agung tadi adalah karya anak bangsa.

“Mesinnya kita dari luar tapi body pesawatnya anak bangsa yang membuatnya. Bahan body dari stereofoam agar ringan dan dapat terbang tinggi. Dan dia dapat membawa beban sampai 8 kilogram,” ungkap Staf Ahli Madya PVMBG, Umar Rosadi Rabu (11/10/2017) malam di Pos Pantau Gunungapi Agung PVMBG Desa Rendang, Karangasem.

Penggunaan drone untuk penanggulangan bencana bukanlah hal yang baru. Untuk kebutuhan kaji cepat yang efektif, drone sangat bermanfaat. Keluwesan terbang drone, baik vertikal maupun horizontal dalam jangkauan tertentu, serta kemampuan mengambil gambar dari ketinggian tertentu, drone telah menawarkan gambar atau landscape berbeda dalam melihat peristiwa bencana.

BNPB bersama Lapan, BIG, BPPT, TNI, Basarnas, BPBD dan relawan beberapa kali menerbangkan drone untuk penanganan bencana, seperti penanganan letusan Gunung Sinabung, Gunung Kelud, banjir Jakarta, longsor Ponorogo, longsor Banjarnegara dan lainnya.

Sebuah studi yang dilakukan Palang Merah Amerika menyebutkan bahwa drone adalah salah satu teknologi baru yang paling menjanjikan dan ampuh untuk meningkatkan respon bencana.

Bahkan saat ini, drone banyak juga digunakan oleh media massa dalam peliputan bencana karena drone memiliki potensi yang besar dalam menyiarkan berita kepada publik. Gambar dan video yang dihasilkan dari drone menjadi sumber informasi yang penting bagi pemerintah selaku pemegang keputusan, dan juga bagi masyarakat dalam rangka memberikan informasi, edukasi,dan menumbuhkan kesiapsiagaan. [CelebesNews.id]

Penulis : Simon Siagian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Inilah Pemenang Lomba Bahasa dan Sastra Indonesia Tingkat SMP/MTs se-Kabupaten Kotim

Sampit, Kepala Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur (Disdik Kotim)  dan Panitia Lomba Bahas…