Home KAWANUA KAWANUA MINAHASA Kisah Tuanku Imam Bonjol di Minahasa

Kisah Tuanku Imam Bonjol di Minahasa

0
0
2,123

Saat ini, tempat bersejarah tersebut menjadi destinasi para pelancong domestik maupun mancanegara.

CELEBES NEWS – Ada yang menarik saat berkunjung ke Desa Lota, Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara. Para Wisatawan Domestik maupun Mancanegara disuguhkan sebuah sejarah Pahlawan Tuanku Imam Bonjol.

Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.

Patung Tuanku Imam Bonjol | FOTO CELEBESNEWS.ID

Tuanku Imam Bonjol terus melawan kolonial Belanda meski harus diasingkan ke berbagai pelosok nusantara. Pada 1839, Ulama besar itu pun sempat diasingkan dari Daerah Bonjol ke Sulawesi Utara bersama pengawal setianya Apolos Minggu, dan wafat 1854.

Nurdin Popa, Keturunan Apolos Minggu, sekaligus penjaga makam tengah berdiri disamping batu yang dulu dijadikan tempat shalat Tuanku Imam Bonjol. | FOTO CELEBESNEWS.ID

Nurdin Popa, salah seorang keturunan Apolos Minggu menuturkan, semasa hidup pengasingan Tuanku Imam Bonjol hanya beribadah hingga menghembuskan nafas terakhir. Sebab, tujuan dari pengasingan Ulama asal Minangkabau itu untuk meredam perang Padri di Sumatra Barat oleh rakyat yang dipimpin olehnya.

Makam Tuanku Imam Bonjol | FOTO CELEBESNEWS.ID

Makam Imam Bonjol berada di lahan seluas 75 meter x 20 meter. Suasana di makam ini sejuk sebab terlindung pepohonan rimbun. Pusara Imam Bonjol berada dalam bangunan berbentuk rumah adat Minangkabau, berukuran 15 meter x 7 meter.

Pada bagian belakang bangunan makam mengalir Sungai Malalayang. Dengan menuruni sedikitnya 74 anak tangga dan jalan yang berkelok-kelok di tepian sungai, terdapat sebuah bangunan yang dulunya dipakai Imam Bonjol sebagai tempat melaksanakan shalat.

“Salah satu situs sejarah disekitar makam, adalah batu tempat shalat Imam Bonjol, yang terletak sekitar 100 meter dari makam, dan bersebelahan dengan kalu yangs sekarang didirikan musholah kecil untuk para pengunjung melaksanakan shalat,” ujar Nurdin, yang juga penjaga makam tempat bersejarah tersebut.

Musholah yang biasa digunakan para pengunjung untuk melaksanakan ibadah | FOTO CELEBESNEWS.ID

Makam Tuanku Imam Bonjol pertama kali di pugar oleh pemerintah melalui Menteri Perhubungan Indonesia Azwar Anas pada 1992, yang kemudian dijadikan objek wisata sejarah oleh Pemprov Sulawesi Utara.

Saat ini, tempat bersejarah tersebut menjadi destinasi para pelancong domestik maupun mancanegara, terlebih saat menjelang Ramadan, Lebaran dan hari libur. [©-fhm/ike]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ratusan Polisi Amankan Pentahbisan Uskup

Syamsubair menjelaskan, hingga saat ini kondisi di lokasi masih aman dan terkendali. …