Home KAWANUA KAWANUA KABUPATEN GORONTALO Warga Mulai Persiapkan Lebaran Ketupat

Warga Mulai Persiapkan Lebaran Ketupat

0
0
2,562

Menurut Sosiolog Basri Amin, lebaran ketupat dilahirkan oleh warisan kebiasaan Keraton Solo dan Jogjakarta.

CELEBES NEWS – Sejumlah warga di Kabupaten Gorontalo mulai mempersiapkan lebaran ketupat, yang akan digelar pada hari ketujuh setelah Idul Fitri, atau tepatnya pada Minggu (2/7/2017). Persiapan yang dilakukan warga diantaranya menyiapkan bahan untuk pembuatan kue dodol, menyediakan bambu, janur, hingga beras ketan yang akan dimasak sehari sebelum lebaran ketupat.

Makanan yang menjadi menu khas lebaran ketupat di Gorontalo adalah nasi bulu (beras yang dimasak dalam bambu), dodol dan ketupat.

“Dodol sudah bisa dimasak mulai sekarang karena prosesnya cukup lama, tapi makanan tersebut awet hingga lebaran ketupat. Tapi kalau ketupat dan nasi bulu, kami baru memasaknya sehari sebelum lebaran ketupat,” ungkap salah seorang warga Kecamatan Bongomeme, Warni, Rabu, (28/6/2017).

Untuk dodol manis, kata dia, dirinya berencana membuat sekitar tujuh kilogram yang akan dikemas dalam daun untuk dibagikan kepada para kerabat dan tamu yang datang berkunjung ke wilayah itu.

Warga lainnya, Tono Wantu mengaku sudah menyiapkan sejumlah ruas bambu untuk keperluan memasak nasi bulu karena bahan tersebut biasanya akan sulit dicari bila waktu lebaran ketupat sudah mepet.

“Saya biasanya pesan kepada pedagang bambu seminggu sebelum lebaran ketupat. Bambu ini nanti akan diisi dengan beras dan dimasak dengan bumbu, sehingga rasa nasi bulu menjadi gurih,” jelasnya.

Lebaran ketupat semula hanya digelar oleh warga keturunan Jawa di wilayah Yosonegoro, Limboto, Limboto Barat, Batudaa, Bongomeme dan Tabongo di Kabupaten Gorontalo.

Namun beberapa tahun terakhir, tradisi ini mulai meluas ke Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango.

Sosiolog dari Universitas Negeri Gorontalo, Basri Amin, menuturkan meski lebaran ketupat adalah sebuah tradisi panjang di banyak komunitas Islam, namun di Gorontalo lebaran ketupat tak bisa dilepaskan dari “Kampung Jawa”.

Menurutnya tradisi ini dilahirkan oleh warisan kebiasaan Keraton Solo dan Jogjakarta.

Lebaran ketupat (ba’do ketupat) jelas mengandung makna agama dan budaya. Ada nilai perjumpaan yang dikandung dalam tradisi ini.

“Setiap tahunnya, di hari idul fitri kita semua pasti rindu dengan perjumpaan yang hangat dengan sesama keluarga, kerabat dan tamu-tamu. Tapi, itu semua lebih banyak terjadi di rumah-rumah kita masing-masing dan di masjid,” paparnya. [©-ant/ike]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Harga Garam di Kabupaten Gorontalo Tembus Rp8.000

Harga garam yang dijual sejumlahj pedagang di Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontal…