Home CAKRAWALA HUKUM Dirut RSUP Kandou Bantah Biarkan Pasien

Dirut RSUP Kandou Bantah Biarkan Pasien

0
0
2,678

Pasien masuk dari Tobelo dengan didiagnosa hamil kehamilan 32 minggu, infeksi berat, dan diduga ada tumor.

CELEBES NEWS – Dugaan kelalaian rumah sakit hingga menyebabkan seorang ibu bernama HT (31) meninggal dunia bersama bayi yang dikandungnya, dibantah Direktur Utama RSUP Prof Kandou dr Maxi R Rondonuwu DHSM MARS. HT, warga Tobelo Halmahera Utara, meninggal dunia di RSUP Prof Kandou Manado, Senin (8/8/2017) pagi.

Ditemui awak media di ruangannya, Selasa (9/5/2017) siang,  dr Maxi tampak tenang menghadapi peristiwa tersebut. Dia membantah pihak RSUP membiarkan pasien. “Pasien masuk dari Tobelo sejak 10 April 2017. Saat tiba di sini, pasien didiagnosa hamil dengan usia kehamilan 32 minggu, ada infeksi berat, dan diduga ada tumor,” ujarnya.

Dirut RS terbesar di Indonesia Timur ini juga membantah informasi dari keluarga korban tentang rencana operasi pada Rabu pekan lalu. “Tidak ada dokter yang menjanjikan korban akan dioperasi hari Rabu lalu. Yang benar, korban akan dioperasi pada Senin (8/5/2017) karena operasi yang dilakukan adalah operasi elektif,” lanjutnya.

Sebelum operasi dilakukan, pada Jumat (5/5/2017) malam pasien pergi ke toilet dan pusing sambil kejang-kejang. “Setelah dilakukan tensi, hasilnya 180/110. Pasien didiagnosa mengalami pre-eklamsi berat atau boleh dibilang keracunan kehamilan,” jelas dr Maxi.

Dia menambahkan, keluarga korban menyatakan ada dokter yang berjanji akan melakukan operasi pada Rabu pekan lalu. “Setelah saya tanya ke dokter, tidak ada yang mengatakan itu. Saya tidak tahu dari mana sumber informasi pihak keluarga itu,” jelasnya.

Dirut RSUP juga mengakui, pihak keluarga akan membawa masalah ini ke ranah hukum. “Silakan saja jika keluarga ingin ke ranah hukum. Kami selalu siap masuk ke ranah hukum,” tegasnya.

Menurut dr Maxi, peristiwa ini hanyalah kesalahan komunikasi antara dokter dan keluarga pasien. “Saya lihat kasus ini kesalahan komunikasi,” singkatnya.

Saat awak media menanyakan mengenai bentuk tanggung jawab dari RS atas peristiwa ini, dengan tegas dia menyatakan tidak ada dana untuk itu. “Kita RS pemerintah, pengeluaran anggaran jelas. Kalau setiap orang meninggal, kita tanggung, dana dari mana? RS tidak salah,” ujarnya.

Saat dikonfirmasi melalui telepon pada Selasa (9/5/2017) sore, Erik Toweka selaku ayah korban yang saat ini berada di Tobelo, Halmahera Utara menjelaskan, waktu itu tidak ada permintaan maaf sama sekali dari pihak RSUP Kandou. Biaya ambulance dan cargo pun dibayar oleh keluarga sedangkan RSUP hanya menanggung biaya formalin.

“Kami sekeluarga sangat merasa kecewa dengan pelayanan rumah sakit hingga kami kehilangan dua nyawa sekaligus. Padahal saat itu kami sudah tanyakan ke dokter untuk dioperasi Rabu, dokter katakan ‘iya’ saja tapi  tidak ada tindakan sama sekali, malah mengganti dokternya,” sesalnya. [©-all/tan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Diduga Sebarkan Ujaran Kebencian Terhadap PDIP, AlFian Tanjung Dituntut 3 Tahuan Penjara

JAKARTA – Jaksa meyakini Alfian terbukti secara sah dan meyakinkan telah membuat uja…