Home KOTA KOTA MANADO PEMKOT MANADO GSVL: Penghargaan Komnas HAM untuk Rakyat Kota Manado

GSVL: Penghargaan Komnas HAM untuk Rakyat Kota Manado

0
0
2,021

Walikota Manado Ir GS Vicky Lumentut, SH, MSi, DEA (GSVL) mendedikasikan penghargaan dari Komnas HAM untuk seluruh rakyat Kota Manado. 

CELEBES NEWS – Penghargaan dari Komnas HAM atas keberhasilan sebagai kepala daerah yang berhasil menjaga toleransi dan kerukunan antar-umat beragama, didedikasikan Walikota Manado Ir GS Vicky Lumentut, SH, MSi, DEA (GSVL) untuk seluruh warga Kota Manado. Tanpa peran serta masyarakat dan pemuka agama, mustahil dirinya mendapatkan penghargaan tersebut.

Walikota Manado DR Ir GS Vicky Lumentut, SH, MSi, DEA menjadi salah satu pembicara dalam Kongres Nasional Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (16/03/17). | FOTO ISTIMEWA

“Terima kasih saya sampaikan kepada seluruh masyarakat Kota Manado serta para rohaniawan yang tergabung dalam wadah BKSAUA dan FKUB, yang telah turut membantu pemerintah. Partisipasi masyarakat sangat luar biasa dalam membangun kebersamaan di Kota Manado. Penghargaan dari Komnas HAM ini akan menjadi motivasi dan semangat bagi kita untuk hidup rukun dan damai di Kota Manado,” ungkap Walikota GSVL saat menerima penghargaan pada acara Kongres Nasional Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (16/03/17).

Dalam kongres bertema ‘Memperteguh Toleransi dan Komitmen Negara dalam Melindungi Hak atas Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Indonesia’ itu, Ketua Komnas HAM RI DR M Imdadun Rahmat menyatakan, pada tahun 2016 Komnas HAM banyak menerima laporan pengaduan seputar pembatasan atau pelarangan serta pengrusakan tempat ibadah. Komnas HAM sangat prihatin atas kasus kerukunan antar-umat  beragama tersebut.

“Hingga saat ini, Komnas HAM masih menerima laporan seputar pembatasan atau pelarangan dan pengrusakan tempat ibadah.  Ini kasus yang paling banyak diadukan pada tahun 2016, yakni 44 pengaduan. Masih ada lagi 12 pengaduan seputar ancaman atau intimidasi terhadap kelompok keagamaan,” terang Ketua Komnas HAM.

Komnas HAM menggunakan lima aspek sebagai parameter penilaian bagi sebuah daerah untuk mendapatkan penghargaan. Kelima aspek tersebut adalah aspek pandangan individu perlindungan beragama kepada publik, aspek kepemimpinan yang menggerakkan anak buahnya untuk tidak diskriminatif, dan aspek kebijakan yang menghormati kerukunan dan konsistensi. Aspek berikutnya adalah aspek pendorongan hukum untuk mendorong ke ranah hukum jika ada yang bermasalah dan aspek pemulihan hak korban yang tertimpa masalah.

Walikota Manado DR Ir GS Vicky Lumentut, SH, MSi, DEA menjadi tamu istimewa bersama sejumlah pejabat dan tokoh nasional dalam Kongres Nasional Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (16/03/17). | FOTO ISTIMEWA

Saat mempresentasikan model kerukunan umat beragama di Kota Manado, Walikota GSVL menyatakan, di Kota Manado telah ada wadah Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama (BKSAUA) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).

Terkait adanya laporan pelarangan pembangunan tempat ibadah di Kelurahan Paniki Bawah, yang masuk ke Komnas HAM, Walikota GSVL menyatakan masalah tersebut telah diselesaikan saat Ketua Komnas HAM datang ke Manado. “Hanya terjadi mis-komunikasi saja,” tegasnya.

Demikian juga dengan persoalan pembangunan Masjid Al-Khairiyah di lahan eks Kampung Texas. Hingga kini, tidak ada gejolak yang terjadi. Apalagi, pemerintah Pemerintah Kota Manado didukung Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) telah merencanakan untuk membangun Taman Religi tanpa membongkar masjid yang ada.

“Persoalan gesekan antar-umat beragama terkait pembangunan tempat ibadah terjadi karena adanya mis-komunikasi dan lebih mengarah berbau politis karena menjelang Pilkada Kota Manado lalu. Setelah dilakukan dialog dengan BKSAUA dan FKUB, persoalan itu dapat diselesaikan. Rasa memiliki sebagai orang Manado sangat besar,” terang GSVL.

“Di Manado tidak ada yang namanya orang Jawa, orang Makassar, orang Papua atau orang Batak dan lain sebagainya. Yang ada adalah orang Manado yang berasal dari Jawa atau orang Manado yang berasal dari Makassar, orang Manado berasal dari Papua, dan seterusnya,” ungkap mantan Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ini dan disambut aplaus peserta kongres. [©-jm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

BPS: Indeks Kebahagiaan Orang Indonesia di Masa Presiden Jokowi Meningkat

JAKARTA – Indeks kebahagiaan Indonesia mengalami peningkatan dari 68,28 pada 2014 me…