Home CAKRAWALA SOSIAL DAN BUDAYA Nafi` Muthohirin Bahas Arus Fundamentalisme Islam di Indonesia

Nafi` Muthohirin Bahas Arus Fundamentalisme Islam di Indonesia

0
0
2,316

Pemikir muda Nafi` Muthohirin merilis buku tentang arus fundamentalisme di Indonesia, khususnya di perguruan tinggi negeri. Beragam aktivitas tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat.

CELEBES NEWS –  Tokoh pemikir muda Islam Indonesia mulai hidup kembali setelah sekian lama tak terekam jejaknya. Pemuda asal Jawa Timur, Nafi` Muthohirin, melahirkan sebuah buku berjudul ‘Fundamentalisme Islam, Gerakan dan Tipologi Pemikiran Aktivisi Dakwah Kampus.’

Buku ini menggambarkan fenomena paling mutakhir arus fundamentalisme di Indonesia, khususnya yang terjadi di pusaran perguruan tinggi negeri. Beragam aktivisme Islam bercirikan revitalisme tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat, di antaranya Hizbut Tahrir, Harakah Tarbiyah, dan Jamaah Salafi. Meskipun objek penelitian buku ini masih berpusat di Universitas Indonesia (UI) namun fakta ini cukup mewakili gerakan ini, yang  juga merembet ke sejumlah kampus sekuler di Tanah Air.

“Agenda kegiatan yang mereka lakukan cukup sederhana, misalnya mengadakan kajian keislaman, hafalan Al-Quran, dan mentoring. Siapa yang menyangka, justru aktivitas seperti ini banyak diminati mahasiswa,” ucap Nafi` dalam sekapur sirih bukunya.

Mantan pengurus DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini pun mendapat pujian dari tokoh dan cendekiawan muslim Indonesia, termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan. “Latar belakang Nafi` yang saya kenal sebagai aktivis sekaligus wartawan, menjadikan tema buku ini benar-benar berhasil diceritakan secara mendalam. Membaca buku ini seolah kita diajak berdiskusi tentang perkembangan gerakan Islam di Indonesia,” ucap Baswedan.

Cendekiawan Muslim Indonesia Prof Dr Azyumardi Azra, MA mengungkapkan, kemunculan berbagai gerakan islam fundamentalis perlu mendapatkan perhatian serius. “Jika tidak ada tindakan, bukan tidak mungkin bila bakal muncul generasi Islam yang berpaham keagamaan konservatif, bahkan radikal. Jika sudah seperti ini, bukan hanya mayoritas absolute umat Islam moderat yang dirugikan. Keteraturan negara menjadi terancam akibat gerakan atau propaganda negara Islam yang mereka perjuangkan. Karena itulah, perkembangan kelompok-kelompok fundamentalis ini perlu dicermati, seperti yang terungkap dalam karya ini,” kata Mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini.

Peneliti LIPI dan Intelektual muda Muhammadiyah Ahmad Najib Burhani Ph,D menyampaikan, dengan menyandingkan buku Najib Azca ‘After Jihad’, buku Noorhaidi Hasa ‘Laskar Jihad’ dan buku Nafi` ‘Fundamentalisme Islam’, kita akan mendapat gambaran lengkap tentang before, during, dan after jihad.

“Kajian fundamentalisme Islam di Indonesia dengan menjadikan mahasiswa sebagai subyek penelitian, seperti yang ditulis dalam buku Nafi, adalah kajian baru. Studi ini melengkapi apa yang ditulis Azca dan Hasan. Tentu saja, Nafi’ tidak bicara soal kekerasan tapi hampir setiap kekerasan berbasiskan agama memerlukan ideologi yang menjustifikasi kekerasan. Fundamentalisme adalah embrio dari itu semua,” ungkapnya.

Mantan Rektor UIN Syarif Hiyatullah Prof Dr Komaruddin Hidayat, MA mengatakan, “Ramainya aktivitas keislaman bercirikan fundamentalisme di sejumlah kampus, seperti di Universitas Indonesia (UI), bukan merupakan fenomena yang benar-benar baru. Keberadaannya adalah nyata dan tak bisa dibantah. Hasil riset yang tertuang dalam buku ini bisa menjadi bukti dari eksistensi aktivis-aktivis fundamentalis Islam,” tutur Komaruddin. [©-ris]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

BPS: Indeks Kebahagiaan Orang Indonesia di Masa Presiden Jokowi Meningkat

JAKARTA – Indeks kebahagiaan Indonesia mengalami peningkatan dari 68,28 pada 2014 me…