Home KOLOM Semangat Bhinneka Tunggal Ika

Semangat Bhinneka Tunggal Ika

0
0
2,098

Oleh Hendrik Kawilarang Luntungan

Hendrik Kawilarang Luntungan | FOTO ISTIMEWA

SEPEKAN terakhir, Tanah Air sedang dihujani dengan polemik tentang kebhinnekaan. Satu hal yang semestinya tidak terjadi dalam kisah Indonesia abad modern. Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila adalah perdebatan yang sudah selesai dalam sidang BPUPKI, Agustus 1945. Puncaknya adalah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, yang dibacakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Jelas Bung Karno mengatakan, “Apa yang sudah disepakati secara politik, tidak lagi boleh diperdebatkan secara estetik.”

Justru di sini, apa yang sering dipesankan oleh Ketua Umum kita, Bapak Hary Tanoesoedibjo menjadi sangat relevan. Di manapun dalam setiap kesempatan, Ketua Umum selalu mengingatkan, segala perdebatan dan perseteruan kita saat ini, sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh kesejahteraan yang tidak merata. Untuk itulah Partai Perindo berdiri, tidak lain  untuk membangun jalan baru, jalan pemerataan, jalan kesejahteraan saudara-saudara sekalian.

Boleh kita periksa, dari Bolaang Mongondow hingga ke Bunaken, dari puncak Tondano hingga  pantai terluar Republik Indonesia di Miangas. Yang kita saksikan adalah sebuah provinsi yang menjadi gerbang utara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebentar lagi Pelabuhan Bitung akan ramai disinggahi pelayaran internasional, ini adalah akibat dari arus ekonomi dari utara: Korea, Taiwan, dan Tiongkok. Artinya, inilah tanah dan laut, di mana bukan saja kebanggaan semu masa lalu yang akan kita pertunjukkan, tapi kedaulatan dan nasib ratusan juta rakyat Indonesia akan dipertaruhkan di bumi Sulawesi Utara ini.

Dari sini, di gerbang Pasifik, kita bisa memulai pemerataan itu. Distribusi kebutuhan pokok dan material untuk membangun infrastruktur tidak lagi berpusat di Jakarta. Persoalan yang sejak dulu menyebabkan saudara-saudara kita di Papua harus membeli semen bahkan air mineral dengan harga selangit. Dari Sulawesi Utara kita bisa memotong mata rantai distribusi sehingga menjadikan saudara kita di Papua menikmati kue kesejahteraan yang sama dengan saudaranya di belahan bumi Indonesia yang lain.

Sekali lagi, Bhinneka Tunggal Ika bukanlah mantra sakti, yang ketika dibacakan maka jutaan orang akan tersihir lalu percaya. Bhinneka Tunggal Ika haruslah merupakan angka-angka nyata, di mana keragaman kita, tidak lagi berarti juga keragaman nasib, di mana ada wilayah yang menikmati kue pembangunan berlebih sementara wilayah yang lain menderita ketertinggalan. Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi warna-warni yang sama, antara kilau yang satu dengan kilau yang lain. Wilayah yang satu merasakan kesejahteraan yang sama dengan wilayah lainnya. Hanya dengan itu, warna-warni yang Bhinneka itu bisa dirakit menjadi satu mozaik maha-indah, berkilau di garis Kathulistiwa ini.

Sulawesi Utara, adalah tanah di mana hampir tidak pernah orang bertentangan satu dengan yang lain hanya karena perbedaan agama, suku, atau kepercayaan. Kita hidup rukun, saling jaga, saling menghargai satu dengan yang lain.

Di sebagian tanah Sulawesi Utara ini, penduduk beragama muslim dan penduduk beragama Kristen dan Katholik hidup tanpa bertengkar satu dengan yang lain. Sulawesi Utara harus menjadi contoh Bhinneka Tunggal Ika. Karenanya, untuk menunjukkan keseriusan kita, Partai Perindo adalah partai politik pertama yang memiliki kantor dan struktur di Miangas, batas kedaulatan dan batas martabat bangsa Indonesia.

Etos Tou Minahasa dideklarasikan dalam Nuwu in tua yang berisi: “…Sapakem si kayo’ba’an anio, tana’ ta im baya! Asi endo makasa, sa me’em si ma’api, wetengan e pa’tuusan, wetengan eng kayo’ba’an! Tumani e kumeter, mapar e waraney, akad se tu’us, tumou on tumou tou!…” (Dengan ini kami nyatakan, dunia ini adalah tanah air kita semua! Bila pada suatu saat, burung telah memberi tanda yang pasti, bagilah tanah ini, hai kamu pemuka masyarakat pemberi contoh! Bukalah wilayah pertanian baru, hai kamu pemimpin pekerjaan! Kuasailah wilayah, hai prajurit perkasa, agar keturunan kita dapat hidup dan memberi hidup!).

Begitulah tanah yang subur ini dibagi dalam damai, tanpa sengketa, tanpa harus mengusir yang lainnya. Indonesia tidak akan bisa damai, jika salah satu merasa merekalah yang paling benar di atas yang lainnya. Rumah Indonesia tidak akan pernah selesai jika mayoritas memaksakan kehendaknya pada minoritas. Halaman Indonesia tidak akan pernah berbunga kesejahteraan jika ada satu unsur anak bangsa yang merasa paling berhak atas tanah ini, dibandingkan anak bangsa yang lain.

Kita sudahi semua pertengkaran, mari kita rajut terus warna warni kebhinnekaan, karena darah yang sama jangan berpencar, karena tulang yang sama jangan bertengkar. Rawat keutuhan bangsa Indonesia, tebarkan benih kesejahteraan sesuai amanat Ketua Umum Partai Perindo. Hanya satu alat untuk menjahit ribuan suku bangsa di tanah air ini, alat itu bernama PERSATUAN INDONESIA. Mari Kita semai masa depan Indonesia Raya, bersama PARTAI PERINDO Bersatu-Berdaulat-Sejahtera. [©]
*] Hendrik Kawilarang Luntungan adalah Ketua DPW Partai Perindo Sulut

*] Disampaikan dalam pelantikan 168 DPC Partai Perindo dan Pemuda Perindo Sulawesi Utara di Manado, Senin (21/11).
SUMBER: ManadosatuNEWS.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Ruang Publik Area Pertarungan Pemikiran

Oleh: Emrus Sihombing Saya mengamati, sampai saat ini wacana deradikalisasi versus radikal…